Riau(SL) - Mungkin sering terdengar di telinga kita Provinsi Riau disebut dengan nama Bumi Lancang Kuning. Sebagai bentuk kebesaran
Longtime ago, there was a poor woman who had a son named Lancang. Both of them lived in a ramshackle hut in a place known as Kampar. Lancang's father had passed away many years ago. His mother worked as a labor in a field. Lancang himself herded his neighbors' sheep. One day Lancang was very tired of having a terribly poor life.
batamposid- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Restu Gunawan meminta dukungan Pemprov Kepri melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) untuk menyukseskan pelayaran muhibah budaya dan festival jalur rempah yang akan sampai digelar September 2021 mendatang. BACA JUGA: Gunawan menjelaskan Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan
LancangKuningCerita Rakyat dari RIAU#PGRI_RIAU#PB_PGRI
BeliBUKU CERITA RAKYAT RIAU LANCANG KUNING,GANDO HILANG. di makmurjaya olshop. Promo khusus pengguna baru di aplikasi Tokopedia! Download Tokopedia App. Tentang Tokopedia Mitra Tokopedia Mulai Berjualan Promo Tokopedia Care. Kategori. Masuk Daftar. rtx 3050 bawang merah tempat makan asus
MHSW. Sejarah Lancang Kuning - Lancang merupakan sebuah kapal dalam ukuran yang berbeda-beda, ada yang kecil maupun yang besar, Adapun masyarakat Riau lebih mengenal dengan istilah Lancang Kuning, Lancang Kuning dikenal masyarakat Riau sebagai lambang kebesaran daerah dimana terdapat sejarah dan cerita yang memawakili Lancang Kuning ini. Lancang Kuning dijadikan lambang dan nyanyi daerah Riau. Lancang merupakan alat transportasi pada zaman dahulu. Adapun kata Kuning merupakan warna kebesaran kerajaan. Konon cerita Lancang Kuning berasal dari sebuah kerajaan yang terdapat di Bukit Batu. Wilayah Kabupaten Bengkalis. Kerajaan ini di perintah oleh raja yang bernama Datuk LaksmanaPerkasa Alim dan dibantu dua orang panglima, Panglima Umar dan Panglima Hasan. Panglima Umar merupakan seseorang yang dipercayai oleh Datuk Laksamana. Apapun permasalahan yang terjadi dalam kerajaan, maka Panglima Umar lah yang akan Umar menyukai seorang gadis, dan ia menyampaikan hasratnya suatu hari kepada Datuk Laksamana untuk menyunting gadis tersebut yang bernama Zubaidah. Permintaan Panglima Umar disambut baik oleh Datuk Laksamana, dan diadakanlah pesta pernikahan yang cukup besar. Namun, ternyata pernikahan ini ada yang tidak menyenangi yaitu Panglima Hasan, disebabkan Panglima Hasan juga menyukai dan mencintai gadis yang sama yaitu Zubaidah, istri sahnya Panglima rasa iri dan dengki dalam hati Panglima Hasan, ia mencari cara bagaimana agar Zubaidah dapat dimilikinya, meskipun ia sadar bahwa Zubaidah sudah menjadi istri rekannya sendiri, Panglima Umar, namun nampaknya rasa cinta kepada gadis pujaannya telah membuat mata hati Panglima Hasan tertutup dan tetap ingin melancarkan ide jahatnya dan memiliki kebencian dan akal busuk yang dimiliki Panglima Hasan, maka ia menyuruh Domo menyampaikan kepada Datuk Laksamana bahwa ia bermimpi agar Datuk membuat Lancang Kuning untuk mengamankan semua perairan dari lanun, Datuk Laksamana menerima apa yang disampaikan Pawang Domo sehingga Lancang Kuning dikerjakan siang dan malam agar sesegara mungkin selesai dan diluncurkan. Namun, disaat Lancang Kuning hampir selesai tersebar berita bahwa Bathin Sanggoro melarang para nelayan Bukit Batu untuk mencari ikan di Tanjung ini membuat gelisah Datuk Laksamana dan ia pun memerintahkan panglima kepercayaannya untuk menemui Bathin Sanggono, yaitu Panglima Umar untuk mempertanyakan dan menyelesaikan perkara ini. Sebenarnya Panglima Umar berat hati untuk pergi melaksanakan perintah ini, dikarenakan istrinya Zubaidah tengah mengandung anak pertama dan hamil tua yang sebentar lagi akan melahitkan, namun karena ini tugas yang sangat penting dan menyangkut kerajaan maka Panglima Umar pun pergi melaksanakan perintah Datuk Laksamana, semua perasaan khawatir ia berlayar beberapa hari maka sampailah Panglima Umar. Ia menceritakan segalanya pada Bathin Sanggono, terkait berita yang beredar di Bukit Bati. Bathin sanggono pun terkejut dengan perihal yang disampaikan oleh Panglima Umar, karena ia sendiri tidak pernah melarang nelayan Bukit Batu menangkap ikan di Tanjung Jati. Mendengar hal demikian membuat Panglima Umar berfikir panjang, apa gerangan sebenarnya yang terjadi. Bathin Sanggono pun menyarankan agar Panglima Umar menyelidiki asal muasal berita ini, dan ia pun menyelidi kasus ini sewaktu hendak pulang ke Bukit Batu. Ia pun berkeliling mencari siapa yang telah membuat berita bohong ini, tidak terasa sudah hampir satu bulan Panglima Umar melakukan pada malam purnama, Lancang Kuning akan diluncurkan ke laut. Telah berkumpul rakyat dan pemuka kerajaan untuk menyaksikan peluncuran Langcang Kuning. Berbagai hiburan rakyat dipertunjukkan. Semua penduduk sangat bergembira kecuali Zubaidah karena suaminya Panglima Umar sudah satu bulan pergi dan belum juga kembali, ia memilih tetap di rumah saat acara peluncuran Lancang Kuning keperluan peluncuran sudah dipersiapkan dan Pawang Domo memberikan petunjuk kepada Datuk Laksamana. Acara dimulai dengan tepung tawar pada dinding Lancang Kuning, kemudian dilanjutkan oleh Panglima Hasan dan pemuka masyarakat lainnya. Setelah itu dilanjutkan dengan pengasapan dan baru lah semua yang hadir diminta supaya berdiri disamping Lancang Kuning dan semua bunyi-bunyian dibunyikan, semua telah memegang Lancang Kuning untuk siap didorong ke laut namun sangat aneh Lancang Kuning tidak bisa bergerak sedikitpun meskipun sudah dilakukan berulang-ulang dan juga sudah menambah kekuatan. Namun, Lancang Kuning tetap saja tidak bisa bergerak. Semua yang hadir bertanya-tanya dan Domo mengatakan kepada Datuk Laksamana bahwasanya, Jika ingin meluncurkan Lancang Kuning maka harus ada yang dikorbankan. Untuk korban tersebut pawang Domo mengatakan diperlukan perempuan hamil sulung. Mendengar penjelasan Pawang Domo, Datuk Laksaman tertunduk dan termenung dan ia pun meminta untuk mengundur pelaksanaan peluncuran Langcang Kuning ke peluncuran itu pun diundur sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, kemudian semua pemuka masyarakat dan rakyat pulang ke rumah masing-masing. Pada saat itu Panglima Hasan mengambil kesempatan menghampiri Zubaidah, istri Panglima Umar hendak merayunya agar mau menjadi istrinya. Namun, Zubaidah menolak keinginan Panglima Hasan, karena ia tidak ingin mengkhinati suaminya dan juga Zubaidah tidak suka dengan Panglima Hasan. Karena merasa ditolak keinginannya oleh Zubaidah maka Panglima Hasan merasa harga dirinya dipermalukan. Kemarahannya pun telah menguasai bantuan pengawalnya Panglima Hasan membawa Zubaidah ke tepi laut tempat keberadaan Lancang Kuning. Setelah sampai, Panglima Hasan mendorong tubuh Zubaidah kebawah Lancang Kuning dan saat itu juga ia memerintah pengawalnya untuk mendorong Lancang Kuning. Hanya didorong oleh beberapa orang saja Lancang Kuning meluncur dengan Segar mengalir dan berserakan di tanah, turun hujan lebat dan petir, angin pun kencang dan saat itu juga Panglima Umar telah pulang dari perjalanannya. Panglima Umar langsung ke rumahnya mencari istri dan anaknya yang telah ditinggalkan. Tidak didapatinya Zubaidah di rumah, ia mulai gelisah. Ia berangkat ke pelabuhan, di tengah perjalanan ia berjumpa dengan Panglima Hasan, Panglima Umar pun menanyakan gerangan istrinya kepada Panglima Hasan. Panglima Hasan menceritakan bahwa Zubaidah telah dijadikan oleh Datuk Laksamana untuk meluncurkan Lancang cerita dari Panglima Hasan, Panglima Umar langsung pergi ke tempat Lancang Kuning diluncurkan, ia mendapati istrinya telah tiada dengan tubuh bersimbah darah. Hatinya sangat pilu diusapkannya darah yang ada di tanah ke wajahnya, dan ia bersumpah akan membalas dendam ini, ia bersumpah akan membunuh orang yang telah membunuh istrinya. Belum lama ia berjalan, terlihat Datuk Laksamana Umar langsung menyerang Datuk Laksama dengan pedang yang panjang, mengenai perut Datuk Laksamana, tanpa ada pembicaraan sedikit pun. Datuk Laksaman mati di tangan Panglima Umar, saat itu Pawang Domo datang dan menceritakan segala kejadian yang sebenarnya, bahwa Panglima Hasan lah yang menjadikan Zubaidah gilingan Lancang Kuning, tanpa pikir panjang lagi, Panglima Umar mencari Panglima Hasan sudah bersiap-siap hendak melarikan diri menuju Lancang Kuning, namun hal itu tampak oleh Panglima Umar, belum sempat melepaskan talinya, Panglima Umar telah sampai dengan pedang yang ada di tangannya. Mereka berkelahi di atas Lancang Kuning dan akhirnya Panglima Hasan mati ditikam Panglima Umar dan jatuh ke kejadian itu, Panglima Umar pun mengatakan kepada orang-orang yang ada di pantai, bahwa ia yang telah membunuh Datuk Laksamana karena perbuatan Panglima Hasan dan Panglima Hasan pun telah mati dibunuhnya, karena hal itu maka ia akan pergi dengan Lancang Kuning untuk selama-lamanya. Sampailah di Tanjung Jati Lancang Kuning berlayar, ombak besar dan angin topan datang menghantam Panglima Umar dan Lancang Kuning. Ia bersama Lancang Kuning karam ke dalam laut Tanjung fancy text generator will make your words stand out when posting on social
Artikel ini pernah dipublikasikan pada Riaumagazine Versi pada 29 Maret 2012Sinopsis Lancang Kuning ini adalah sinopsis untuk cerita Lancang Kuning yang merupakan cerita rakyat Melayu khususnya Riau yang dibawakan oleh Teater Mahligai. Bulan Mei 2012, Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekanbaru mengadakan pagelaran Sendratasik Lancang Kuning di negeri Belanda dan 5 negara Eropa LANCANG KUNINGLancang kuning berasal dari kata “lancang” perahu kebesaran kerajaan dan "kuning” warna kebesaran kerajaan. Lancang Kuning adalah nama perahu besar kerajaan yang digunakan sebagai kendaraan air oleh raja-raja Melayu Riau. Adapun legenda atau cerita rakyat Lancang Kuning ini diangkat dari nama itu, karena legenda ini menceritakan peristiwa yang terjadi dalam lingkungan hari, Datuk Laksamana pemimpin Bukit Batu Bengkalis di Riau, memanggil dua panglimanya, yaitu Panglima Umar dan Panglima Hasan menghadap ke istana untuk diberi tugas ke Tanjung Jati menumpas perompak atau lanun yang selalu mengganggu kawasan tersebut di Senggoro kawasan mana tempat mata pencarian nelayan Bukit Batu. Dengan ketaatannya, Panglima Umar langsung berangkat melaksanakan tugas ini, meskipun harus meninggalkan istrinya yang cantik bernama Zubaidah. Sementara itu Panglima Hasan tidak ikut berangkat melaksanakan tugas itu, karena ternyata berita adanya perompakan di Tanjung Jati itu hanyalah rekayasa siasat Panglima Hasan sendiri agar Panglima Umar jauh dari isterinya Zubaidah dan Datuk kepergian Panglima Umar, diam-diam Panglima Hasan berusaha merayu Zubaidah agar mengkhianati suaminya dan menjanjikan kehidupan lebih baik, namun Zubaidah bertahan dengan kesetiaan dan marwahnya. Situasi ini membuat hati Panglima Hasan semakin marah dan brutal. Panglima Hasan mencari akal menghabisi Zubaidah. Bertepatan ketika peluncuran Lancang Kuning Kerajaan ke air, tiba-tiba Lancang Kuning berhenti tidak bergerak sama sekali, maka Panglima Hasan memutuskan mengambil Zubaidah sebagai tumbal untuk galangan lancang. Dengan bergalangan tubuh Zubaidah, maka lancang tersebut berhasil diluncurkan ke laut dan Zubaidah pun mengakhiri hidupnya di bawah lama setelah kematian Zubaidah, Panglima Umar yang baru pulang dari Tanjung Jati mendapat fitnah yang dibuat oleh Panglima Hasan sendiri, bahwa Datuk Lasemana lah yang membunuh Zubaidah dengan menjadikan tubuh Zubaidah sebagai tumbal galangan lancang. Hasutan Panglima Hasan ini termakan oleh Panglima Umar dan membuat Panglima Umar menjadi kalap dan amat marah. Tanpa pikir panjang Panglima Umar menyerang Datuk Laksemana. Datuk Laksemana memberi sumpah kepada Panglima Umar, bahwa apabila Panglima Umar melewati Tanjung Jati, akan tenggelam bersama itu barulah Panglima Umar sadar akan fitnah itu, pertikaian dengan Panglima Hasan pun terjadi, dan berakhir dengan kematian Panglima Hasan yang tragis di ujung keris Panglima Umar pun pergi menjalankan kutukan dari Datuk Laksemana, berlayar ke perairan Tanjung Jati dan tenggelam. Sejak saat itu pulau Bengkalis dikenal daerah yang berkembang dibawah kepemimpinan Datuk Lancang Kuning untuk Pagelaran sendratasik Lancang Kuning AKTOR dan AKTRIS / SENIMAN PAMERANSendratasik “Lancang Kuning” dibawakan oleh aktor dan aktris yang sudah berpengalaman di bidang akting. Sebahagian ada yang sudah beberapa kali mengadakan pementasan di manca negara termasuk di Eropa. Demikian pula musisi penyanyi yang mendukungnya terdiri dari para seniman yang karyanya mendapat pujian dari peminat seni Eropa. Itulah sebabnya Sendratasik Lancang Kuning produk Teater Mahligai ini terpilih untuk ditampilkan pada beberapa even di negara-negara Director/Hulu BalangChristina Putri Susanti ZubaidahMonda Gianes Panglima UmarUbaidillah bin Said Umar Datuk LaksemanaGustansyah Panglima HassanMakhzun Hafas Bathin SanggoroSri Deswita Mak Bidan/Make up artistHafizah Askacita Rakyat/make up artistPENDUKUNGRino Deza Pati Composer/MusicianMuhammad Santoso David MusicianViogy Rupiyanto MusicianCendra Putra Yanis MusicianSyahru Ramadhan MusicianAristofani MusicianArdiansyah MusicianIwan Kurniawan MusicianFitrah MusicianMekroza MusicianLoni Jaya Putra MusicianTito Aldila Coreographer/MusicianYunita Hartati binti Nadi Singer/DalangSuhenri Perdana DancerAwal Zumardi DancerWan Harun Ismail DancerRiyo Tulus Pernando DancerYeniati Astuti DancerGemi Marta Jepri DancerHeppy Fitriana DancerFanny Fifiyanti DancerDevienta Roza DancerFahrizal Artistik/RakyatIndra Kumala Dokumentasi/officialLeonasri Official/CrewYulli Sullianti Costum/RakyatPENANGGUNG JAWAB Lembaga Adat Melayu Riau Kota PekanbaruSINOPSIS LANCANG KUNINGSumber Tulisan Lembaga Adat Melayu Riau Kota Pekanbaru
cerita rakyat riau lancang kuning